Dampak Buruk Siaran Televisi Kita

  amiktegal
  1 year ago
  451
Dampak Buruk Siaran Televisi Kita Image

Dampak Buruk Siaran Televisi Kita


KOMPAS, MINGGU 30 APRIL 2017

Dampak Buruk Siaran Televisi Kita

Kekerasan

Dalam Sinetron

Siaran televisi atau sinetron di stasiun televisi pada awalnya banyak yang berkualitas, seperti “Si Doel Anak Betawi” , “Keluarga Cemara” , atau “Panji Milenium” , yang mampu menarik minat masyarakat karena terkait kehidupan sehari-hari. Namun yang sekarang “wajib” dalam setiap sinetron Indonesia adalah kekerasan, baik dalam bentuk verbal maupun nonverbal. Kita tahu, adegan kekerasan dengan mudah ditiru anak-anak. Misalnya, pertandingan smack down yang di tayangkan di stasiun televisi beberapa waktu lalu, dengan jam tayang yang dapat di akses anak-anak. Banyak anak yang kemudian meniru adegan kekerasan dalam pertandingan tersebut. Teman-teman saya pada masa itu juga tanpa ragu menonton dan menirukan di sekolah. Meski sekedar bercanda, kenyataanya beberapa berakhir fatal antara lain gigi patah dan gusi berdarah. Banyak orang yang kemudian mengirim petisi meminta tayangan dihentikan atau paling di ganti jam tayang. Namun seolah tidak belajar dari kekhawatiran masyarakat terhadap adegan kekerasan, adegan kekerasan tetap diselipkan dalam sejumlah sinetron. Puncaknya pada 2013, sinetron Si Biang Kerok Cilik menjadi sorotan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) sampai digelar acara diskusi terbatas. Menurut KPAI, dari hasil pengamatan 7 episode, ditemukan 45 adegan kekerasan fisik dan 89 kekerasan verbal. Akhir-akhir ini, serial Roman Picisan yang diminati anak-anak dan remaja juga bermuatan sama. Contohnya pada episode40, setidaknya ada tiga adegan kekerasan fisik, yaitu mendorong, adu mulut, dan berkelahi. Satu adegan pengambilan barang dengan tujuan menyembunyikan dan beberapa kalimat kekerasan non-verbal sebagai penyelesaian solusi gurauan. Kekerasan sebagai pola penyelesaian masalah dalam sinetron tersebut bertentangan dengan budaya masyarakat Indonesia yang mengusung musyawarah untuk mencapai mufakat.

ADINA IZDIHAR                                                                      

Jalan Jelambar Baru V,Jakarta Barat


Toleransi dan menghormati orang lain. Namum dengan perkembangan zaman, televisi malah memberikan konten di luar itu sehingga berpotensi memberikan dampak negatif, terutama kepada anak-anak dan remaja. Dampak negatif, seperti berperilaku agresif dan gaya hidup konsumtif, yang banyak disiarkan televisi seperti menghasut penonton untuk terbawa ke dalamnya. Beberapa contoh adalah penayangan program si netrom dan program reality show. Yang muncul adalah mewahnya gaya hidup anak SMA di Ibu Kota. Misalnya kesekolah membawa mobil, berdandan menor yang tidak selayaknya remaja pada umumnya. Hal lain adalah tidak menghargai keberadaan orang yang lebih tua usianya dan kurang toleransi kepada etnis berbeda. Remaja yang menonton secara intens bisa terpengaruh dan meniru hal serupa tanpa melihat keberadaan, social, dan keluarga mereka. Bahkan, anak SD yang masih di bawah umur pun mulai mengerti tentang pacaran dan merokok. Mereka bangga dan senang melakukan hal tersebut tanpa memikirkan dampaknya bagi kesehatan diri ataupun lingkunganya. Peran serta orang tua di butuhkan dalam memantau apa yang layak tonton sesuai klasifikasi tayangan.                               

ANGGIE N WULANDARI
Sirandu, Pagerkukuh,
Wonosobo 

Post a comment

Error: You must be logged in to leave comments. Please login by clicking here.

No comment is found.